Senin, 06 Oktober 2008

Sebuah hikmah disampikan Oleh: Muhammad Arifin Ilham pada harian umum Republika Senin, 6 Oktober 2008. Sungguh mudah mengatakan memberi maaf tetapi betapa beratnya menjadi pemaaf.

''Tetapi, barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.'' (QS Asysyura [42]: 43)

Kata maaf memang gampang diucapkan bahkan didakwahkan, tetapi betapa beratnya menjadi pemaaf. Itu sebabnya seorang pemaaf sangat mulia di sisi Allah. Inilah ajaran Islam yang salam, mencintai kebaikan dan perdamaian, bukan dendam dan permusuhan.


Padahal, sejatinya, banyak manfaat menjadi seorang pemaaf. Pertama, dalam kacamata Islam, pemaaf adalah ciri utama dari orang sabar (lihat QS Asysyura [42]: 42-43). Mereka yang berbuat zalim pada manusia dan tidak meminta maaf, siksa yang pedih ganjarannya.

Kedua, maaf menjadi benteng dari tipu daya setan (lihat QS Almaidah [5]: 91). Hal yang sering luput dari pantauan kita bahwa kebencian, permusuhan, dan dendam adalah program utama setan.

Ketiga, adalah kewajiban Muslim untuk memaafkan karena tidak satu pun manusia ini bersih dari dosa (lihat QS Annajm [53]: 32). Hanya Allah subbuuhun qudduusun Mahasuci lagi Menyucikan, begitu sucinya Allah, Dia pun tetap memaafkan sebesar apa pun dosa hamba-Nya (lihat QS Azzumar [39]: 53).

Keempat, ingat! Kelapangan dada, kejernihan berpikir, kerendahan hati, dan sifat maaf adalah tanda kemuliaan akhlak. ''Siapa yang rendah hati, Allah angkat derajatnya,'' demikian sabda Nabi Muhammad SAW.

Kelima, maaf menjadi pintu silaturahim, perdamaian, persaudaraan, dan ketenangan. Alangkah indahnya suasana ini, karena itu tidak tepat mempertahankan ego atau gengsi yang sebenarnya menunjukkan kesombongan diri.

Keenam, maaf menjadi jalan keluar dari berbagai masalah. Siapa tahu yang melakukan kesalahan tidak sengaja, salah paham, belum mengerti, atau berlatar belakang yang berbeda, maka dengan maaf semua kembali cair. Dengan maaf kita juga bisa melakukan koreksi diri, boleh jadi kita pun pernah menyakiti orang lain atau karena kesalahan masa lalu atau karena Allah ingin menguji kesabaran kita (lihat QS Ali Imran [3]: 134).

Ketujuh, maaf adalah kunci surga. Ingat sabda Nabi, ''Tidak akan masuk surga seorang yang pendendam.'' (Muttafaq ‘Alaih). Sungguh bodoh bila kita menjadi terlalu sombong dan gengsi untuk meminta maaf. Karena, sikap ini hanya akan mengantarkan kita ke pintu neraka. Mari saling memaafkan.

1 komentar:

Ifat mengatakan...

betul tuh maz.....maaf memang mudah..tapi kadang juga susah cz masih ada genksi, tapi lebih sulut lagi memafkan...apa lagi klo bener2 sakit hati...harus belajar ikhlas juga....salam kenal